Kamis, 17 Maret 2011

SHUTTER SPEED

Lorong Inul Vizta, Sarinah
Binatang apa itu shutter speed? Apa pengaruh pemilihan shutter speed yang berbeda pada hasil foto? Bagaimana cara memperkirakan kecepatan shutter speed yang optimal? Bagaimana cara kreatif dalam memanfaatkan shutter speed? Mari kita pelajari bersama.
Unit shutter, bentuknya seperti jendela (gambar dari dpreview.com)
Apakah shutter dan shutter speed itu?
Shutter adalah bagian dari kamera mirip seperti jendela yang selalu dalam kondisi tertutup. Bila tombol shutter (tombol besar pengambil gambar di bagian atas kamera) ditekan maka shutter akan membuka sehingga cahaya yang datang dari luar akan masuk (melalui lensa) dan jatuh ke sensor pengambil gambar. Kemudian setelah jeda waktu tertentu shutter pun menutup lagi, memutus aliran cahaya yang masuk. Gambar pun tercipta di atas sensor (atau film pada kamera film). Nah lama waktu jendela shutter ini terbuka itulah yang kita sebut shutter speed. Shutter speed dihitung dalam satuan detik, misal 1/10 detik, 1/100 detik, 1/1000 detik dan seterusnya.
Mode Tv pada DLSR Canon
Menyetel kamera anda
Untuk bisa sesuka hati menentukan kecepatan shutter speed maka kamera harus disetel ke mode tertentu. Bila kamera anda memiliki pengatur mode P, A , S dan M maka anda bisa memilih mode S (shutter speed priority) atau bila anda menggunakan kamera merk Canon silakan pilih mode Tv (time value priority). Dengan memilih mode ini maka anda yang menentukan kecepatan shutter speed sementara setelan aperture dikendalikan oleh kamera secara otomatis. Anda mengubah nilai shutter speed dengan memutar atau menekan tombol pengendali utama kamera anda.
Atau anda bisa juga memilih mode P (program mode) lalu putar atau tekan tombol pengendali utama untuk mengubah nilai shutter speed (juga aperture secara bersamaan) ke angka yang anda inginkan.
Kreatif, membekukan atau mengaburkan subyek
Membekukan gerak subyek
Prinsip umumnya, semakin cepat gerak subyek maka kita butuh shutter speed yang semakin cepat untuk “membekukan” subyek.
Misal, untuk memotret manusia yang sedang bergerak normal (duduk sambil berbicara misalnya) kecepatan 1/60 detik sudah cukup untuk membekukan gerak tangan dan bibirnya. Lain lagi bila hendak membekukan gerak manusia sedang berlari, mungkin kita butuh 1/200 detik atau lebih cepat. Demikian seterusnya.
Atau anda bisa juga dengan sengaja mengaburkan bentuk subyek dengan memperlambat shutter speed. Memadukan shutter speed yang lambat dengan gerakan kamera atau gerakan subyek akan membuat subyek tampil kabur di hasil foto (seperti foto besar paling atas).
Tidak ada panduan pasti dalam menentukan shutter speed, pengalaman akan membantu anda menentukan shutter speed.
Mengubah shutter speed pada mode manual
Anda mungkin tertarik untuk menggunakan mode M (full manual eksposur) untuk memegang kendali secara penuh atas kamera anda. Silakan dicoba, ini adalah kesempatan anda untuk mengerti bagaimana sebuah kamera bekerja dalam menangkap cahaya.
Bila anda mengubah nilai shutter speed menjadi lebih cepat tanpa mengimbanginya dengan membuka aperture lebih besar atau menaikkan ISO menjadi lebih tinggi maka anda akan mendapatkan foto yang lebih gelap daripada sebelumnya. Semakin cepat shutter speednya maka semakin gelap pula foto anda.
Sebaliknya, bila anda memperlambat shutter speed tanpa menutup aperture menjadi lebih kecil atau menurunkan ISO menjadi lebih rendah maka foto anda akan semakin terang dari sebelumnya.
Kenapa? Ini karena cara kerja kamera yang mengumpulkan cahaya. Bila anda mengurangi waktu shutter speednya maka anda harus menambah besar lubang aperturenya untuk mempertahankan eksposur yang sama. Atau bila bila anda tidak mau memperbesar lubang aperturenya maka anda harus menaikkan ISO-nya. Ini adalah hukum kesetimbangan. Sama seperti sebuah perkalian A x B = C, bila anda hendak memperkecil nilai A sambil mempertahankan nilai C maka anda harus menaikkan nilai B. Betul kan?
Nah, selamat mencoba.

Teknik Memotret Malam

Teknik Memotret Malam Hari Dengan Flash

Oleh redani, 14 August 2010
Foto liburan anda?
Lihatlah foto di sebelah, terlihat familiar bukan? Apakah foto liburan terakhir anda tampak seperti ini? Ya inilah tipikal hasil foto yang umum kita dapatkan pada malam hari pada setelan automatik dengan menggunakan flash: subyek yang terang benderang dengan latar belakang yang gelap. Mari kita pelajari teknik yang lebih baik agar foto seperti ini tidak terjadi lagi.
Untuk mendapatkan foto sebaik siang hari dengan kondisi cahaya yang terbatas nyaris tidak mungkin. Anda harus memprioritaskan beberapa hal dan mungkin kehilangan beberapa hal lainnya. Anda harus melakukan banyak kompromi. Yang kita usahakan adalah memaksimalkan hasil pemotretan dalam situasi yang kurang menguntungkan ini.
Siap? Yuk kita mulai.
Ide Dasar
Saya bisa mengerti jika saat ini anda sudah bersama kamera kesayangan anda dan ingin segera praktek. Tapi sebelumnya anda harus pahami hal-hal berikut ini dahulu. Dalam fotografi dengan flash anda bertanggung jawab atas dua wilayah eksposur. Sudah anda ingat? Dua wilayah eksposur. Bawa kopi dan kacang ke depan komputer anda karena ini akan menjadi pembahasan yang panjang. Kita bahas satu persatu:
Visualisasi dua wilayah eksposur. Orang ke 1 dan 2 mendapat eksposur yang pas, orang ketiga agak gelap, orang keempat gelap
Eksposur pertama adalah eksposur latar depan, yaitu wilayah yang terjangkau oleh sinar flash anda. Jarak efektifnya kira-kira hingga 2 sampai 3 meter tergantung flash pada kamera anda. Terang gelapnya wilayah ini bergantung pada kekuatan flash anda. Anda sebaiknya membuka diafragma cukup besar agar flash anda tidak bekerja terlalu keras. Anda boleh saja ingin diafragma yang cukup kecil agar mendapatkan ruang tajam yang lebih lebar tapi harap diingat bahwa itu artinya anda mengurangi jarak jangkauan efektif flash. Setiap flash punya batas kekuatan maksimal dan tidak bisa lebih terang lagi. Jika anda mendapati latar depan foto anda tidak bisa lebih terang dari sebelumnya kemungkinan flash anda sudah ‘mentok’, anda sebaiknya mengalah dan membuka diafragma menjadi lebih besar. Jika diafragma pun sudah mentok tidak bisa lebih besar lagi maka anda mau tidak mau harus menaikkan ISO. Ini adalah sebuah kompromi, anda kehilangan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lainnya.
Eksposur kedua adalah eksposur latar belakang, yaitu wilayah yang tidak lagi terjangkau oleh sinar flash anda. Wilayah ini mungkin diterangi oleh cahaya lampu-lampu ruangan, cahaya lilin atau bahkan cahaya bulan yang masing-masing berbeda intensitasnya. Bila latar belakang tidak diterangi sumber cahaya apapun maka anda bisa langsung memotret. Jika latar belakang memiliki sumber cahaya maka kita bisa mengatur terang gelapnya. Besarnya intensitas cahaya yang menerangi latar belakang akan mempengaruhi hasil akhir foto kita. Terang gelapnya wilayah ini bisa dikendalikan dengan memperlambat shutter speed kamera kita. Semakin lambat shutter speed maka semakin terang latar belakangnya (ini yang kita mau) tetapi juga artinya semakin rentan terhadap gerakan baik gerakan subyek maupun guncangan tangan kita sendiri. Sekecil apapun guncangan bisa menyebabkan foto menjadi blur (ini yang tidak kita kehendaki). Yup, anda harus berkompromi dalam hal ini. Anda tidak bisa menang di keduanya. Yang anda harus cari adalah latar belakang yang cukup terang dan foto yang tidak blur. Mungkin anda perlu memperbaiki posisi kaki dan cara memegang kamera agar anda lebih kaku, tahan nafas jika perlu.
Sekarang kita melangkah ke praktek. Sengaja saya pisahkan antara kamera poket (kamera saku) dengan DSLR dengan flash built-in dan DSLR dengan flash eksternal. Semuanya menggunakan teknik yang serupa hanya berbeda di beberapa tahap. Saya haruskan anda membaca semuanya.
Mode night scene
Kamera Poket
Berhubung flash kamera poket hanya bisa menghadap ke depan maka kita terpaksa melakukan direct flash, yaitu menyinari obyek secara langsung dengan sinar flash.
Bila kamera saku anda ada memiliki mode “night scene”  maka anda dapat langsung mengaktifkannya untuk memotret malam hari. Dan bila kamera anda ternyata juga memiliki mode M (manual) anda bisa lebih leluasa menciptakan efek yang sama, bahkan lebih baik. Caranya:
  1. aktifkan mode M (manual) pada kamera
  2. nyalakan flash, biarkan di mode automatik
  3. buka diafragma (aperture) hingga maksimum (pilih angka terkecil) agar lebih banyak cahaya yang masuk ke lensa
  4. setel ISO ke 200
  5. set white balance ke flash atau sunlight
  6. lambatkan shutter speed hingga 1/30 sambil perhatikan layar LCD, bila terlalu terang maka percepat shutter speed (misal ke 1/40 atau lebih cepat) hingga terlihat cukup terang, bila terlalu gelap maka pelankan shutter speed (misal ke 1/25 atau lebih pelan lagi), bila sudah terlalu pelan (misal 1/15) maka sebaiknya anda kembalikan shutter speed ke 1/30 dan naikkan setelan ISO satu tingkat, ulangi langkah ini sampai mendapatkan cahaya yang seimbang dan shutter speed yang cukup cepat
  7. ambillah foto, jika mungkin minta kepada subyek foto anda untuk tidak bergerak hingga kira-kira satu detik hingga pengambilan foto selesai (flash biasanya nyala beberapa kalisetiap pengambilan foto, pastikan subyek foto tidak buru-buru bergerak setelah flash pertama menyala)
Walaupun masih melakukan direct flash yang cenderung keras, cara di atas memiliki kelebihan dibandingkan mode night scene yang disediakan kamera. Kelebihannya adalah anda memiliki kendali atas gelap terangnya latar belakang dari foto anda dengan cara memperlambat/mempercepat shutter speed. Mode night scene yang tersedia di kamera menggunakan trik yang sama tetapi sudah mematok eksposur latar belakang di tingkat tertentu dan tidak dapat diubah.
Teknik memperlambat shutter speed ini dikenal dengan istilah slow-shutter atau bukaan lambat. Bila disertai dengan flash  sering disebut dragging the flash atau “menyeret flash”. Tetapi apapun istilahnya anda sekarang sudah paham cara kerjanya. Semakin lambat shutter speed maka semakin terang latar belakang foto anda.
Foto diambil dengan teknik direct flash dan slow shutter. Latar belakang tertangkap dengan baik.
Kamera DSLR dengan Flash Built-In
Memotret malam hari dengan kamera DSLR dengan flash built-in juga menggunakan teknik slow shutter, yaitu cara yang sama dengan kamera poket kecuali di langkah nomor (6). Sebagai pengganti langkah ke (6) yaitu melihat ke layar LCD, adalah anda harus melakukan penyesuaian eksposur dengan melihat ke metering kamera (aktifkan metering mode matriks). Pastikan flash berada  di mode full automatik (TTL).
Setel shutter speed ke 1/30 dan perhatikan jarum metering anda, pastikan menunjuk angka lebih kecil dari nol dan di sekitar angka minus satu hingga minus dua. Bila ternyata jarum menunjukkan angka yang lebih kecil dari itu maka pelankan shutter speed. Bila shutter speed sudah kelewat lambat (misal 1/15 detik) maka kembalikan shutter speed ke 1/30 dan naikkan ISO. Ulangi langkah ini hingga jarum metering berada di antara minus satu dan minus dua. Ambil sampel foto sebagai contoh. Ulangi langkah di atas (jika perlu) hingga anda mendapatkan perimbangan latar depan dan latar belakang yang sesuai dengan selera. Saya pribadi menyukai eksposur latar belakang pada posisi minus satu selama kondisi memungkinkan.
Portrait dengan teknik bounce flash
Kamera DSLR dengan Flash Eksternal
Dengan flash eksternal maka anda memiliki kesempatan terbaik. Teknik yang digunakan sama dengan teknik memotret pada kamera DSLR dengan flash built-in, bedanya anda mengubah arah moncong flash eksternal anda ke langit-langit di atas kepala anda. Teknik ini dikenal dengan nama teknik bouncing flash (flash yang dipantulkan). Dengan memantulkan cahaya flash ke langit-langit akan mengubah sifat cahaya flash yang tadinya berpenampang kecil menjadi berpenampang besar. Dan penampang sumber cahaya yang besar menghasilkan cahaya yang lebih lembut merata, itu kuncinya. Hanya saja pastikan bahwa langit-langit anda berwarna putih agar cahaya pantulannya tetap netral.
Jika ruangan tempat anda memotret ternyata memiliki langit-langit yang warnanya tidak netral (merah, coklat dll), langit-langitnya kelewat tinggi atau anda berada di luar ruangan maka anda tidak dapat melakukan teknik bouncing flash. Yang terbaik untuk anda lakukan adalah mengembalikan moncong flash ke arah depan dan kembali ke teknik direct flash dengan slow shutter.
Perbedaan warna latar depan dan belakang. Warna oranye di latar belakang menunjukkan ruangan menggunakan penerang berupa lampu pijar
Mengoreksi Warna
Menggunakan teknik di atas kemungkinan masih menyisakan satu masalah yaitu belangnya warna di latar depan dibandingkan dengan latar belakang. Hal ini disebabkan perbedaan suhu warna antara flash dan lampu ruangan. Bila lampu ruangan adalah dari jenis lampu pijar maka latar belakang foto akan berwarna kekuningan sementara bila lampu ruangan dari jenis lampu neon maka latar belakang foto akan berwarna kehijauan.
Yang perlu kita lakukan adalah menyamakan warna cahaya latar depan dengan warna cahaya latar belakang dan biarkan white balance yang melakukan koreksi untuk menormalkan keduanya sekaligus untuk kita. Terdengar hebat kan?
Gel dan cara pemasangannya
Untuk itu kita butuh bantuan benda yang namanya gel. Bukan, bukan gel yang dimakan anak-anak atau yang dipakai di rambut. Gel yang dimaksud adalah semacam plastik bening berwarna yang bisa anda beli di toko peralatan fotografi. Ada banyak warna tersedia tetapi yang kita butuhkan hanya yang berwarna oranye dan berwarna hijau. Gel oranye kita gunakan pada ruangan dengan pencahayaan lampu pijar dan gel hijau untuk ruangan dengan lampu neon.
Latar depan dan belakang sudah terkoreksi dengan pemasangan gel dan penyetelan white balance yang tepat
Prakteknya sangat mudah. Pasang gel yang sesuai dengan jenis lampu yang ada dalam ruangan pada moncong flash anda. Anda dapat mengetahui jenis lampu tersebut dengan mudah, dengan melihat foto yang diambil dengan teknik slow shutter. Jika latar belakang menunjukkan warna oranye berarti ruangan menggunakan lampu pijar dan anda tinggal memasang gel warna oranye, sedangkan bila kehijauan maka ruangan menggunakan lampu neon dan anda silakan pasang gel hijau. Selanjutnya anda harus mengubah white balance ke jenis lampu yang sesuai dan selesailah proses pemasangan, anda hanya tinggal memotret.
Memotret malam hari dengan flash selalu menantang. Setiap tempat, setiap lokasi, setiap ruangan punya karakteristik masing-masing yang menuntut kita untuk segera beradaptasi. Sering-seringlah berlatih agar terbentuk refleks.
Selamat memotret.

Kamis, 10 Maret 2011

PARAMORE THE ONLY EXEPTION

When I was younger
I saw my daddy cry
And curse at the wind
He broke his own heart
And I watched
As he tried to reassemble it

And my momma swore that
She would never let herself forget
And that was the day that I promised
I'd never sing of love
If it does not exist

But darling,
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception

Maybe I know, somewhere
Deep in my soul
That love never lasts
And we've got to find other ways
To make it alone
Keep a straight face

And I've always lived like this
Keeping a comfortable, distance
And up until now
Paramore The Only Exception lyrics found on http://www.directlyrics.com/paramore-the-only-exception-lyrics.html

I had sworn to myself that I'm
Content with loneliness

Because none of it was ever worth the risk

Well, You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception

I've got a tight grip on reality
But I can't
Let go of what's in front of me here
I know you're leaving
In the morning, when you wake up
Leave me with some kind of proof it's not a dream

Ohh---

You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception

And I'm on my way to believing
Oh, And I'm on my way to believing

Rabu, 09 Maret 2011

Kegagalan Adalah Sukses yang Tertunda

KEGAGALAN adalah keberhasilan yang tertunda, begitu nasihat yang sering kali diucapkan seseorang kepada rekannya yang mengalami kegagalan. Maksud penyampaian nasihat ini tentu untuk memberikan semangat bahwa kegagalan bukanlah kiamat atau akhir dari segalanya.
Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan. Baik itu kegagalan di dalam perdagangan, kegagalan dalam pernikahan, kegagalan dalam kuliah, kegagalan dalam pekerjaan dan lain sebagainnya. Bahkan orang-orang besar yang terlihat bergelimang kesuksesan sekalipun pasti pernah mengalami kegagalan di dalam hidup mereka.
Penyebab kegagalan
Jika kita menelusuri penyabab kegagalan, maka kita dapat menggolongakan penyabab tersebut dalam dua golongan besar, yakni kegagalan karena faktor internal dan kegagalan karena faktor external.
Kegagalan karena faktor internal adalah kegagalan yang berasal dari dalam diri kita sendiri. Banyak hal yang dapat menjadi penyebab kegagalan ini,seperti kurang perhitungan pada saat awal melangkah, kurang hati-hati dalam melakukan sesuatu, atau karena menganggap remeh suatu pekerjaan tertentu. Tetapi penyebab internal yang paling sering terjadi adalah rasa takut untuk mencoba atau memulai sesuatu kesempatan. Dengan menghindari peluang atau kesempatan bukan berarti kta telah lepas dari kemungkinan kegagalan yang mungkin kita hadapi, akan tetapi kita justru telah menetapkan kegagalan tersebut sebagai pilihan kita.
Selain berjiwa besar, seseorang juga memiliki kemampuan untuk menghadapi permasalahan atau menghadapi parmasalahan atau kegagalan yang ia alami. Kemampuan ini lebih dikenal sebagai Adversity Quotient(AQ). Memang AQ ini lebih banyak berkembang di masa kecil seseorang, dimasa orang tua sangat berperan dalam hal memupuk dan mengembangkan kemampuan AQ anak. Tetapi bukan berarti seseorang yang memiliki kemampuan AQ yang kurang baik tidak akan menghadapi kegagalan yang ia alami. Ada beberapa hal yang dapat membantu seseorang yang untuk tegar dalam menghadapi kegagalan yang ia alami sekaligus meningkatkan kemampuan AQ yang ia miliki.
Berikut ini adalah beberapa langkah sederhana yang dapat kita lakukan pada saat kita menghadapi kegagalan:
1.Pasrah kepada Tuhan
2.Ambil hikmah
3.Istirahat
4.Bertanya dan evaluasi
5.Memulai kegiatan baru
Dan janganlah lupa untuk menggunakan peta kekuatan baru yang kita miliki.
Ada dua kesempatan yang dapat kita lakukan. Pertama adalah tujuan baru dengan cara lama atau tujuan lamdea ngan cara baru. Kedua, tujuan baru dengan cara yang baru.

Senin, 21 Februari 2011

CANON 5D MARK II



EOS 5D Mark II
print   

EOS 5D Mark II


a legend reborn


download brochure
compare products




 
other models

FEATURES



Superb Imaging Performance
•
21.1 megapixels full-frame CMOS sensor for high resolution images of superb quality and details
•
New photodiode construction, new microlens array and on-chip noise reduction circuitry on CMOS sensor minimizes interference from electrical noise; keeping image data clean for clearer images even at high ISO settings and long exposures.
•
DIGIC 4 Imaging Processor’s 14-bit A/D conversion gives rapid processing speeds while maintaining fine detail and accurate colour reproduction
•
2 sRAW file format settings gives you the versatility of RAW at a smaller file sizes
•
Auto Lighting Optimizer function with 4 settings (Standard, low, strong and disable) - Analyzes the brightness of the photographic subject, and automatically corrects the dark parts to make them brighter.
•
New Lens Peripheral Illumination Correction setting to automatically even the brightness across the image
•
Full HD Video capture at 1920 x 1080 resolution for up to 4GB per clip with HDMI output for HD viewing of stills and video

Quick response for stress-free shooting
•
3.9fps continuous shooting speed, up to a maximum burst of 78 shots.
•
Shutter speed of 1/8000sec. and X-sync speed of 1/200sec.
•
Fast 0.1sec. startup time
•
Live View mode
•
Shooting from the LCD monitor allows easy verification of focus, composition and exposure.
•
Silent shooting mode for quiet environments
•
Shoot remotely from your computer via a wired / wireless connection (with WFT-E4)
•
Enhanced live view focusing methods, including Quick mode, Live mode and Face detection mode.

EOS Integrated Cleaning System
•
Comprehensive measures to minimize the effects of dust particles on images
•
Includes Self Cleaning Sensor Unit with fluorine coating for better resistance to dust and Dust Delete Function

Durable Body with Rugged Design
•
Magnesium alloy body for rugged field use
•
High shutter durability* of approx. 150, 000 cycles
•
New 0.71x viewfinder for large and clear view of the scene
•
3.0 inches Clear View LCD (920,000 dots/VGA) with multiple coatings for improved viewing and smudge-resistant protection
•
HDMI (High Definition Multimedia Interface) output for displaying full high-resolution images on a High Definition TV
  * Shutter durability may vary depending on usage and environmental conditions


 
Fast & Sharp Focus
•
Precision 9-point (with 6 assist points) auto-focus (AF) system provides high degree of focusing accuracy
•
Flexible setting of ISO speed to adjust camera’s sensitivity to light for best exposure (ISO 100 – 6400, expandable to L: ISO50, H1: 12800 & H2: ISO 25600).
•
4 metering modes: Evaluative, Partial, Centre-weighted average and Spot.
•
9 White Balance settings to fine-tune white balance as desired:
- Auto, Daylight, Shade, Cloudy, Tungsten light, Fluorescent light, Flash, Custom, Color temperature.

Shooting Modes
•
Mode dial for easy access to a wide range of shooting modes for different shooting conditions:
1) Full Auto
2) New! Creative Auto
3) Program AE
4) Shutter-priority AE (Tv)
5) Aperture-priority AE (Av)
6) Manual
7) Bulb
8) Custom 1
9) Custom 2
10) Custom 3

Picture Style
•
Just like selecting the film type on a conventional camera, users can get the optimum image by selecting the correct setting.
•
6 image composition modes available with sharpness, contrasts, colour tone, saturation can be adjustable:
1) Standard- vivid and sharp images (general shooting)
2) Portrait- beautiful skin tones and clear image quality
3) Landscape- vivid blues and greens, enhanced sharpness.
4) Neutral- natural colour reproduction, low sharpness and moderate expression.
5) Faithful- extremely accurate colour reproduction in daylight
6) Monochrome- black and white or sepia images
7) Picture Style Editor lets you create your own Picture Style files for use with the EOS 5D Mark II



 

SPECIFICATIONS



Type   
Type Digital, single-lens reflex, AF / AE camera
Recording Medium Type I or II CF card, UDMA-compatible
Compatible Lenses Canon EF lenses
(The effective lens focal length is the same as indicated on the lens)
Lens Mount Canon EF mount
Image Sensor   
Type CMOS sensor
Effective Pixels Approx. 21.10 megapixels
Image Sensor Size Approx. 36 x 24mm
Aspect Ratio 3:2
Dust Delete Feature Auto, Manual, Dust Delete Data appending
Recording System   
Recording Format Design rule for Camera File System 2.0
Image Type JPEG, RAW (14-bit Canon original)
RAW + JPEG simultaneous recording possible
Recording Pixels Large: Approx. 21.00 megapixels (5616 x 3744)
Medium: Approx. 11.10 megapixels (4080 x 2720)
Small: Approx. 5.20 megapixels (2784 x 1856)
RAW: Approx. 21.00 megapixels (5616 x 3744)
sRAW1: Approx. 10.00 megapixels (3861 x 2574)
sRAW2: Approx. 5.20 megapixels (2784 x 1856)
Create / Select a Folder Possible
Imaging Processor   
Picture Style Standard, Portrait, Landscape, Neutral, Faithful, Monochrome, User Def. 1-3
White Balance Auto, Preset (Daylight, Shade, Cloudy, Tungsten light, White fluorescent light, Flash), Custom, Color temperature setting (2500 - 10000K) White balance correction and white balance bracketing features provided
* Color temperature information transmission enabled
Noise Reduction Applicable to long exposures and high ISO speed shots
Automatic Image Brightness Correction Auto Lighting Optimizer
Highlight Tone Priority Provided
Lens Peripheral Illumination Correction Provided
Viewfinder   
Type Eye-level pentaprism
Coverage Vertical / Horizontal approx. 98%
Magnification Approx. 0.71x (-1m-1 with 50mm lens at infinity)
Eyepoint Approx. 21mm (From eyepiece lens center at -1m-1)
Build-in Dioptric adjustment -3.0 - +1.0 m-1dpt
Focusing Screen Interchangeable (2 types sold seperately), Eg-A standard focusing screen provided
Mirror Quick-return type
Depth-of-field Preview Provided
Autofocus   
Type TTL secondary image-registration, phase detection
AF Points 9 plus 6 Assist AF points
Metering Range EV -0.5 - 18 (at 23°C / 73°F, ISO 100)
Focusing Modes One-Shot AF, AI Servo AF, AI Focus AF, Manual focusing
AF-assist Beam Emitted by the EOS-dedicated external Speedlite
AF Microadjustment AF Microadjustment possible
Exposure Control   
Metering Modes 35-zone TTL full-apperture metering
• Evaluative metering (linkable to any AF point)
• Partial metering (approx. 8% of viewfinder at center)
• Spot metering (approx. 3.5% of viewfinder at center)
• Center-weighted average metering
Metering Range EV 1-20 (at 23°C / 73°F with EF50mm f/1.4 USM lens, ISO 100)
Exposure Control Program AE (Full Auto, Creative Auto, Program), shutter-priority AE, aperture-priority AE, manual exposure, bulb exposure
ISO Speed (Recommended exposure index) Full Auto, Creative Auto: ISO 100 - 3200 set automatically P, Tv, Av, M, B:ISO 100 - 6400 (in 1/3-stop increments) settable, Auto, or expandable to ISO 50(L), ISO 12800(H1), or ISO 25600(H2)
Exposure Compensation Manual and AEB (Settable in combination with manual exposure compensation)
Settable amount: ±2 stops in 1/3- or 1/2-stop increments
AE lock Auto: Applied in One-Shot AF mode with evaluative metering when focus is achieved
Manual: By AE lock button
Shutter   
Type Electronically-controlled, focal-plane shutter
Shutter Speeds 1/8000sec. to 30secs., bulb(Total shutter speed range. Available range varies by shooting mode.)
X-sync at 1/200sec.
Drive System   
Drive modes Single shooting, continuous shooting, 10secs. self-timer / remote control, 2secs. self-timer / remote control
Continuous shooting speed Max. approx. 3.9 shots/sec.
Max. burst JPEG Large / Fine: Approx. 78 shots (Approx. 310 shots)
RAW: Approx. 13 shots (Approx. 14 shots)
RAW + JPEG Large / Fine: Approx. 8 shots (Approx. 8 shots)
* Figures are based on Canon's testing standards (ISO 100 and Standard Picture Style) using a 2GB card.
* Figures in parentheses apply to an Ultra DMA (UDMA) 2GB card based on Canon's testing standard.
External Speedlite   
Compatible Flash EX-series Speedlite
Flash Metering E-TTL II autoflash
Flash Exposure Compensation ±2 stops in 1/3- or 1/2-stop increments
FE Lock Provided
PC Terminal Provided
Live View Shooting   
Shooting Modes Still photo shooting and movie shooting
Focusing Quick mode (Phase-difference detection) Live mode, Live face detection mode (Contrast detection) Manual focusing (5x / 10x magnification possible)
Metering Modes Evaluating metering with the image sensor (still photos) / Center-weighted average metering (movies)
Metering Range EV 0-20 (at 23°C / 73°F with EF50mm f/1.4 USM lens, ISO 100)
Silent Shooting Provided (Still photo shooting)
Movie MOV (Video: H.264, Audio: Linear PCM)
Recording size: 1920 x 1080 (Full HD), 640 x 480 (SD)
Continuous movie shooting time: Full HD approx. 12mins.
SD approx. 24mins.
LCD Monitor   
Type TFT colour liquid-crystal monitor
Monitor Size and Dots 3in. with approx. 920,000 dots (VGA)
Coverage Approx. 100%
Brightness Adjustment Auto (Darker / Standard / Brighter), Manual (7 levels)
Interface Languages 25
Image Playback   
Image Display Formats Single, Single + Info (Image-recording quality, shooting information, histogram) 4-image index, 9-image index, image rotate possible
Zoom Magnification Approx. 1.5x - 10x
Image Browsing Methods Single image, jump by 10 or 100 images, jump by screen, by shooting date, by folder, by movie, by stills
Highlight Alert Overexposed highlights blink
Movie Playback Enabled (LCD monitor, video / audio OUT, HDMI OUT) Build-in speaker
Direct Printing   
Compatible Printers PictBridge-compatible printes
Printable Images JPEG and RAW images
Print Ordering DPOF Version 1.1 compatible
Customization   
Custom Functions 25
Camera User Settings Camera user settings Register under mode Dial's C1, C2, and C3 positions
My Menu Registration Provided
Interface   
Digital Terminal For personal computer communication and direct printing (Hi-Speed USB)
Audio / Video Output Terminal 3.5mm dia. stereo mini jack (NTSC / PAL selectable)
HDMI Mini OUT Terminal Type C (Auto switching of resolution)
External Microphone Input Terminal 3.5mm dia. stereo mini jack
Remote Control Terminal Compatible with remote control via N3 Type
Wireless Remote Control With Remote Controller RC-1 / RC-5
Extension System Terminal For connection to Wireless File Transmitter WFT-E4 / E4A
Power Source   
Battery Battery Pack LP-E6 (Qty.1)
* AC power can be supplied via AC Adapter Kit ACK-E6
* With Battery Grip BG-E6 attached, size-AA / LR6 batteries can be used
Battery Information Remaining capacity, Shutter count, and Recharge performance displayed
Battery Life (Based on CIPA testing standards) With viewfinder shooting: At 23°C / 73°F, approx. 850 shots.
At 0°C / 32°F, approx. 750 shots.
With Live View shooting: At 23°C / 73°F, approx. 200 shots.
At 0°C / 32°F, approx. 180 shots.
Dimensions and Weight   
Dimensions (W x H x D) 152 x 113.5 x 75mm / 6.0 x 4.5 x 3.0in.
Weight Approx. 810g / 28.6oz. (body only)
Operating Environment   
Working Temperature Range 0°C - 40°C / 32°F - 104°F
Working Humidity 85% or less

• All the specifications above are based on Canon’s testing standards.
• The camera’s specifications and physical appearance are subject to change without notice.
• If a problem occurs with a non-Canon lens attached to the camera, consult the respective lens maker.


 

OVERVIEW



 

AWARDS