Kamis, 17 Maret 2011

FOTO BUNGA yang LEBIH BAIK


Bunga Teratai
Bunga memang indah dan menarik hati bagi siapapun yang memandangnya, pria maupun wanita. Bila sedang membawa kamera di tangan sudah tentu kita rela meluangkan sedikit waktu untuk memotretnya.
Namun bila bunga tersebut kita potret ala kadarnya sering kali hasilnya jauh dari memuaskan. Dan lebih sayang lagi apabila ternyata bunga tersebut hanya mekar sekali setahun misalnya. Tentu sangat sayang bila kita mengabadikannya dengan asal saja. Nah berikut ini adalah beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mengabadikan bunga kita dengan lebih baik. Siap?
Perbaiki Kualitas Cahaya
Kualitas cahaya yang dimaksud adalah seberapa keras perpindahan dari terang ke bayangan. Apakah berbatasan langsung seperti sebuah garis ataukah bergradasi dengan halus sehingga kita tidak bisa lagi menunjuk batasnya dengan jelas. Yang kita cari adalah yang disebut terakhir.
Berikut adalah perbandingan foto yang diambil begitu saja di bawah cahaya matahari dengan foto yang diambil dengan sedikit “menghaluskan” cahaya matahari:
Perbandingan bunga dengan kualitas cahaya berbeda. Foto A bunga terkena cahaya matahari langsung. Foto B menggunakan light diffuser
Foto A diambil dalam kondisi bunga langsung terkena cahaya matahari. Foto B diambil dalam kondisi cahaya matahari “dihaluskan”. Foto B lebih enak dipandang daripada foto A. Setuju? Mari kita perhatikan foto berikut yang merupakan perbesaran dari foto A:
Hasil pencahayaan oleh matahari secara langsung
Bagian 1 menunjukkan bayangan yang keras. Perhatikan bahwa bayangan dari kelopak bunga yang diatas memberikan jejak berupa bidang hitam dan berbatas jelas dengan kelopak bunga yang ada di bawahnya.
Bagian 2 menunjukkan bagian mengkilap berupa pantulan cahaya matahari yang keras di atas daun.
Diffuser yang digantung pada sebuah tripod
Kita bisa menghilangkan efek di atas dengan bantuan sebuah “penghalus cahaya” yaitu sebuah light diffuser. Light diffuser adalah sebuah alat berbahan dasar kain atau plastik semi transparan berwarna putih (netral). Light diffuser dipasang  sedemikian rupa sehingga cahaya matahari melewati light diffuser terlebih dahulu sebelum jatuh ke subyek foto. Light diffuser juga mengubah sumber cahaya yang tadinya kecil dan terang (matahari) menjadi sumber cahaya yang lebar, lembut dan merata.
Light diffuser bisa didapatkan di toko yang menjual peralatan fotografi. Harganya sekitar 200.000 rupiah dan alat ini juga bisa diubah fungsinya menjadi reflektor warna gold maupun silver (untuk pemotretan jenis lainnya).
Selain menggunakan light diffuser anda juga bisa menggunakan kain putih yang dibentangkan. Gunakan bahan yang berwarna putih untuk menjaga warna bunga tidak berubah dari aslinya. Kertas kalkir juga bisa digunakan, yang penting secara prinsip adalah kita menghaluskan cahaya matahari sebelum jatuh ke bunga.
Kita bisa minta tolong seseorang untuk membantu memegangi light diffuser ini atau sekedar gantungkan di mana saja selama ada tempat untuk meletakkan bunga. Anda juga bisa menggantungkannya pada sebuah tripod seperti tampak pada foto.
Tombol penyetel white balance (WB)
Setel White Balance Dengan Benar
Beberapa dari kita membiarkan setelan white balance (WB) di Auto. Walau praktis tapi cara ini membuat warna di foto tampil variatif bahkan tidak terkendali.
Yang benar adalah cocokkan setelan white balance dengan kondisi alam yang sebenarnya. Misal, bila kita sedang berada di cahaya matahari maka pilihlah white balance “Sunlight” yang bergambar matahari. Dengan cara ini maka warna-warna akan tampil natural dan cemerlang.
Potret Bunga di Pagi Hari
Potretlah bunga pada pagi hari kira-kira sebelum jam sembilan karena cahaya matahari pagi tidak bersinar terik seperti siang hari. Cahaya pagi hari menghasilkan kontras yang paling baik bagi kamera, antara bagian terang dan bagian bayangan masih tertangkap baik oleh kamera. Dan pagi hari langit biasanya masih berwarna biru cerah. Cocok bila dipadukan dengan warna kelopak bunga yang cerah. Lagipula di pagi harilah bunga tampil paling segar dan paling menarik.
Nah, sekarang anda giliran anda mempraktekkannya.

YUUK KENALAN SAMA LENSA


Lensa 50mm merk Canon dan Nikon
Apa saja yang perlu kita ketahui dari sebuah lensa? Apa sajakah arti dari deretan angka dan huruf pada sebuah lensa? Apa bedanya lensa zoom dengan lensa prime? Bagaimana menemukan lensa yang tepat buat kamera DSLR anda? Mari kita pelajari lebih lanjut.
Setiap lensa umumnya mencantumkan spesifikasinya seperti:
  1. panjang fokal
  2. aperture (diafragma)
  3. peruntukan jenis sensor
  4. teknologi anti getar
  5. teknologi autofokus
  6. dudukan (mounting) lensa
  7. dan lain-lain
Contoh, lensa “Tamron SP 70-300mm F4-5.6 Di VC USD lens for Nikon”. Maksudnya kira-kira lensa merk Tamron dengan panjang fokal 70 milimeter (mm) hingga 300 mm dengan bukaan mulai dari f/4 pada posisi 70 mm dan hingga bukaan f/5.6 pada 300 mm, lensa khusus untuk kamera APS-C, ada fitur anti getar, ada fitur autofokus dengan motor ultrasonik, dudukan lensa khusus buat kamera merk Nikon. Wah lumayan panjang ya?
1. Panjang Fokal
Panjang fokal (focal length) secara sederhana dapat dijelaskan sebagai luas pandangan yang dapat diambil oleh lensa tersebut. Panjang fokal diukur dalam satuan milimeter (mm). Kira-kira beginilah luas pandangan dari masing-masing panjang fokal:
Perbandingan berbagai panjang fokal
Lensa zoom memiliki panjang fokal yang bisa diubah. Misal lensa Tamron 70-300mm berarti panjang fokalnya dimulai dari 70 mm hingga ke 300 mm. Lensa fixed atau sering disebut lensa prime (tunggal) hanya memiliki satu panjang fokal saja, misal 24 mm, 50 mm, 200 mm dan sebagainya.
2. Aperture (Diafragma)
Pada diafragma f/4, hanya kepala ulat yang tampil tajam
Aperture atau diafragma adalah bagian lensa yang mengatur seberapa besar lubang cahaya di dalam lensa tersebut. Semakin kecil angka aperture maka semakin besar lubangnya dan semakin besar angka aperture maka semakin kecil lubangnya.
Angka aperture menunjukkan kemampuannya dalam mengumpulkan cahaya. Lubang yang besar semakin memungkinkan lebih banyak cahaya yang masuk dalam satu satuan waktu. Artinya kira-kira dalam kondisi remang-remang lensa masih bisa digunakan dengan baik. Lubang yang besar juga berarti ruang tajam (Depth of Field / DOF) yang tipis. Ruang tajam yang tipis memudahkan fotografer berkreasi membentuk foto dengan subyek yang tajam dan latar belakang yang kabur.
Sebaliknya lubang yang kecil memiliki kemampuan mengumpulkan cahaya lebih sedikit dalam satuan waktu. Artinya dalam kondisi remang-remang lensa kemungkinan sudah tidak bisa dipakai lagi karena sudah terlalu gelap.
Pada diafragma f/11, subyek tampil tajam dari depan hingga belakang
Lubang yang kecil juga berarti ruang tajam yang tebal. Ruang tajam yang tebal memudahkan fotografer mengambil gambar dimana semua bagian subyek baik yang di depan hingga ke belakang semuanya tajam, cocok untuk berfoto bersama misalnya.
Aperture dituliskan dengan beberapa cara. Misalnya penulisan F4, f/4 dan 1:4 sebenarnya menunjukkan hal yang sama.
Pada lensa zoom lebar diafragma bisa jadi berbeda pada posisi terpendek dan terpanjangnya. Misal lensa Tamron 70-300mm F4-5.6 dimana bukaan maksimum di posisi 70mm adalah f/4 tetapi berkurang ke f/5.6 pada posisi 300mm. Ada juga lensa yang didesain tetap mempertahankan bukaan diafragmanya walaupun dizoom kesana kemari, contoh lensa Tokina 12-24/4 DX yang bukaan maksimumnya di 12mm dan di 24mm tetap sama yaitu di f/4.
3. Peruntukan Jenis Sensor
Perbedaan luas pandangan antara kamera full frame dan APS-C (simulasi)
Kamera digital SLR sekarang umumnya punya dua ukuran sensor, yang pertama adalah sensor ukuran “full frame” (menurut standar film 35mm) yang ukurannya sekitar 3,5 cm x 2,4 cm. Yang kedua adalah sensor ukuran cropped yaitu lebih kecil 1,5 sampai 1,6 kali daripada fullframe. Ukuran cropped ini juga disebut dengan istilah APS-C. Dengan ukuran APS-C produsen lensa dapat membuat lensa dengan ukuran yang lebih kecil dan range zoom yang lebih lebar.
Canon menandai lensa croppednya dengan kode EF-S. Nikon dengan kode DX. Pentax dengan kode DA. Sony dengan kode DT. Sigma dengan kode DC. Tamron dengan kode Di. Dan Tokina dengan kode DX.
Kamera dengan sensor tipe APS-C dapat menggunakan lensa full frame dari merk yang sama tetapi tidak sebaliknya. Menggunakan lensa untuk sensor APS-C pada kamera full frame akan meninggalkan blok lingkaran hitam di tepian foto.
Perbedaan jenis ukuran sensor akhirnya membuat lensa dengan angka milimeter yang sama menjadi berbeda luas pandangannya bila digunakan di kamera full frame dan kamera APS-C. Misal, lensa 28mm pada kamera full frame hanya menghasilkan luas pandangan setara lensa 42mm jika digunakan pada kamera APS-C.
4. Teknologi Anti Getar
Foto diambil dengan shutter speed 1/5 detik tanpa tripod
Getaran yang dicoba direduksi oleh sistem anti getar adalah getaran yang berasal dari kamera misalnya getaran tangan dan getaran dari kendaraan yang dinaiki fotografer. Fitur ini tidak dapat mereduksi getaran subyek foto.Produsen lensa mereduksi getaran dengan cara menggerakkan salah satu gelas di dalam lensa yang arah gerakannya berlawanan dari gerakan yang terdeteksi. Manfaat fitur ini sangat terasa pada lensa-lensa tele.
Setiap produsen punya kode sendiri untuk fitur ini. Canon menggunakan kode IS. Nikon menggunakan kode VR. Panasonic dan Samsung menggunakan kode OIS. Sigma menggunakan kode OS. Sony (lensa NEX) menggunakan kode OSS. Dan Tamron menggunakan kode VC.
5. Teknologi Autofokus
Sistem autofokus menggunakan motor untuk menggerakkan susunan lensa dalam memperoleh fokus. Teknologi screwdriver menggunakan motor di bodi kamera dan memutar lensa menggunakan tonjolan mirip obeng di mounting lensa. Selain itu ada juga lensa yang sudah memiliki motor di dalam bodi lensanya. Dan terakhir dikembangkan motor jenis ultrasonik yang nyaris tidak berbunyi dan beberapa bahkan memiliki mekanisme dimana kita dapat langsung memutar gelang fokus lensa tanpa harus mengubah sistem autofokus dari auto menjadi manual.
6. Dudukan (Mounting) Lensa
Mounting Nikon (depan) dan Canon
Setiap produsen kamera membuat mounting lensanya sendiri-sendiri dan tidak saling kompatibel. Misalnya, anda tidak bisa memasang lensa merk Nikon di kamera merk Canon tanpa melakukan modifikasi atau menggunakan adapter. Adapun Olympus mengeluarkan mounting lensa dengan spesifikasi terbuka yang dinamainya sebagai Four-Thirds. Spesifikasi Four Thirds boleh diadaptasi oleh merk lain dan sejauh ini baru merk Panasonic yang juga menggunakannya.
Perbedaan mounting ini membuat konsumen menjadi sulit untuk berpindah merk. Apabila seseorang telah memiliki “setumpuk” lensa merk Canon misalnya, maka untuk berpindah ke Nikon berarti semua lensa Canonnya menjadi tak dapat digunakan padahal harga satuannya tidak murah.
Beberapa Tipe Lensa
Standard Zoom. Yaitu lensa serba guna dan kebanyakan lensa ini merupakan lensa kit bawaan kamera. Panjang fokal yang umum adalah 18-55mm untuk kamera cropped sensor atau 28-80mm untuk kamera full frame. Panjang fokal ini cukup fleksibel, dimulai dari panjang fokal yang melebar (wide) hingga mendekati tele.
Telephoto Zoom. Yaitu lensa zoom dengan rentang panjang fokal 55mm hingga mencapai 300mm. Contoh lensa ini adalah 55-200mm dan 70-300mm.
Efek perspektif pada lensa wide angle 12mm
Superzoom. Yaitu lensa yang memiliki rentang panjang fokal yang sangat lebar mencakupi mulai dari wide di 18mm hingga bisa mencapai 200mm bahkan lebih. Lensa ini kadang disebut “lensa sapu jagad” oleh teman-teman fotografer. Tujuan produsen menciptakan lensa jenis ini adalah untuk mendapatkan fleksibilitas tinggi, hanya dengan satu lensa sudah bisa mendapatkan panjang fokal wide hingga tele. Kelemahan lensa jenis ini adalah kualitas gambar yang sering kali terdistorsi hebat dan ketajaman yang kurang baik.
Wide Angle Zoom. Sesuai namanya adalah lensa bersudut lebar (lebih lebar dari standar zoom di 18mm). Lensa tipe ini cocok untuk mengambil suasana baik indoor maupun outdoor. Contoh lensa ini adalah 11-22mm, 10-22mm dan 12-24mm.
Bunga rumput selebar setengah sentimeter
Lensa Macro. Yaitu lensa dengan perbesaran 1:1 atau lebih besar. Gunanya untuk memotret benda-benda yang kecil agar tampak besar. Makin panjang milimeternya maka semakin jauh jarak pemotretan dari subyek (kadang  kita perlu memotret agak jauh dari subyek agar dapat menggunakan lighting tambahan). Contoh lensa yaitu 60mm macro dan 105mm macro. Nikon menggunakan istilah “micro” untuk lensa jenis ini dan saya setuju, di laboratorium orang menggunakan “microscope” untuk melihat benda kecil, bukan “macroscope”.
Lensa Pancake. Lensa unik yang sangat tipis. Salah satu produsen yang mengeluarkan lensa tipis ini adalah Pentax. Lensa ini cocok dipasangkan dengan DSLR mungil agar tetap ringkas.
Lensa Tilt Shift. Yaitu lensa yang bisa ‘ditekuk’. Tujuannya adalah untuk memainkan bidang fokus agar didapat efek ketajaman yang tidak lagi tegak lurus terhadap kamera. Fitur ini dibutuhkan bagi mereka yang memotret gedung tinggi dan pemandangan agar semua tampil fokus.
Fitur-fitur Lain
Weatherseal. Biasanya lensa mahal yang memiliki weatherseal walau tidak selalu. Weatherseal adalah seal karet pada sambungan-sambungan lensa agar lensa tahan terhadap kelembaban dan debu. Bagaimanapun juga anda tetap harus menghindarkan lensa dari kelembaban dan debu walaupun lensa anda memiliki weatherseal.
Efek sunstar pada f/22
Jumlah Bilah Diafragma. Dengan menutup diafragma ke f/22 dan mengarahkannya ke sumber cahaya yang terang akan menghasilkan efek bintang. Jumlah bilah penyusun diafragma menentukan jumlah kaki si bintang. Bila jumlah bilah diafragma genap maka jumlah kaki bintangnya sama dengan jumlah bilah diafragma. Tetapi bila jumlah bilah diafragmanya ganjil maka jumlah kaki bintangnya dua kali lipat dari jumlah bilah diafragma.
Memilih Zoom atau Prime
Lensa zoom menawarkan kelebihan pada fleksibilitas. Lensa prime lebih unggul pada ukuran yang lebih ringkas, berbobot enteng, aperture lebih besar, optik yang lebih jernih, warna-warni yang lebih baik, kontras yang lebih tinggi dan harga yang seringkali lebih murah.
Untuk membuat sebuah lensa zoom produsen harus memasukkan lebih banyak gelas, membuat konstruksi zoom yang rumit, menambahkan coating dan lain-lain yang membuat biaya membengkak. Selain itu lebih banyak gelas dalam sebuah lensa berarti lebih besar kemungkinan terjadinya kebocoran warna (ingat pelajaran sekolah tentang prisma?), posisi zoom yang kurang presisi, bobot yang lebih berat dan lain-lain.
Lensa Untuk DSLR Anda
Anda tidak perlu memiliki lensa untuk semua panjang fokal. Misal memiliki 12-24mm, 24-70mm, 70-200mm dan 200-400mm sekaligus. Itu hanya akan menghabiskan uang dan menghabiskan tempat di dry box anda, kecuali anda punya dana sangat berlebih. Untuk kegiatan fotografi liputan biasanya satu buah lensa sudut lebar, satu buah tele dan satu buah lensa prime sudah cukup.
Jika dana anda terbatas dan ingin kualitas terbaik dari sebuah lensa maka belilah lensa prime, anda bisa melakukan “zoom kaki” sebagai pengganti zoom optik. Jika anda menginginkan fleksibilitas dan tidak terlalu mementingkan kualitas maka silakan ambil lensa superzoom, hanya pastikan jangan sampai mengeluh di kemudian hari tentang kualitas gambar.
Penutup
Investasi sebenarnya dari sebuah sistem kamera adalah pada lensa, bukan bodi kamera. Bersihkan dan simpan lensa anda di tempat penyimpanan yang layak seperti dry box dan lensa anda masih akan bisa berfungsi hingga puluhan tahun ke depan dimana bodi kamera anda mungkin sudah lama rusak.

GAMBAR YANG LARI


Turnamen rugby expatriat di Jakarta Selatan
Memotret subyek bergerak tentu lebih sulit daripada memotret subyek yang diam. Contoh subyek bergerak misalnya pemain sepak bola atau mobil yang sedang berjalan. Untuk bisa sukses memotret subyek bergerak dibutuhkan kombinasi sistem lensa/kamera yang mumpuni dan teknik memotret yang baik. Teknologi saat ini baru memungkinkan kamera DSLR dalam memotret benda bergerak. Penggunaan kamera saku kebanyakan mengalami kegagalan karena lambannya kerja sistem autofocusnya. Namun bila anda pengguna kamera saku tidak ada salahnya meneruskan membaca artikel ini untuk menambah wawasan.
Tuas selektor AF di beberapa model Nikon
Umumnya di kamera DSLR anda ada setelan untuk mengubah sifat sistem autofocus (AF), beberapa menyerupai tombol geser/switch dan lainnya melalui menu. Ada tiga setelan autofocus, pertama adalah single, kedua adalah continuous dan ketiga adalah off/manual. Yang kita butuhkan adalah sistemcontinuous autofocus (continuous AF).
Sistem continuous autofocus mulai bekerja ketika tombol shutter setengah ditekan, mencari fokus pada titik autofocus yang ditentukan. Setelah fokus didapat kamera tidak akan berhenti memonitor pergerakan subyek pada titik autofokus tersebut. Apabila jarak antara kamera dengan subyek berubah maka sistem autofokus akan langsung menyesuaikan dengan jarak yang baru. Dengan demikian diharapkan subyek selalu dalam fokus sempurna. Sistem inilah yang kita butuhkan untuk memotret subyek yang bergerak.
Titik-titik autofocus dengan titik tengah yang aktif
Kamera anda mungkin memiliki beberapa titik autofocus yang tersebar membentuk formasi seperti berlian. Titik-titik autofocus ini bisa berjumlah 3, 9, 11 bahkan lebih. Satu hal yang pasti, selalu ada titik autofocus yang berada paling tengah. Titik-titik autofocus ini memiliki sensitifitas yang berbeda-beda dan yang berada paling tengah adalah yang paling sensitif. Artinya, dalam kondisi remang-remang sekalipun titik autofocus yang ditengah biasanya masih berhasil mendapatkan fokus, sementara dengan titik-titk autofocus yang lain sistem gagal mendapatkan fokus. Bila anda memiliki DSLR top end, anda boleh berlega hati karena hampir semua titik autofocus di kamera anda adalah dari tipe yang sensitif, tidak hanya yang di tengah. Memang ada harga ada rupa.
Hal-hal yang penting untuk dijaga selama pemotretan subyek bergerak adalah:
  • Dengan continuous AF mengikuti subyek bergerak
    jaga kecepatan shutter speed cukup tinggi bila anda ingin subyek anda tampil “beku”
  • bila menggunakan zoom jaga ukuran subyek dalam pandangan anda, bila subyek mendekati maka anda harus memundurkan zoom dan sebaliknya
  • jaga subyek agar tetap berada pada titik autofocus yang dipilih, namun bila sistem autofocus kamera anda juga disertai sistem kecerdasan buatan “focus tracking” maka kamera secara otomatis akan memindahkan titik autofocus ke titik berikutnya dimana subyek kini berada andaikata subyek bergerak (baca manual kamera anda untuk fitur focus tracking)
Walaupun dengan sistem kamera canggih sekalipun tetap saja trik ini punya keterbatasan. Tidak selamanya hasil pemotretan akan menghasilkan foto yang tajam walau kita sudah mengikuti semua aturan. Gerakan subyek yang berubah tiba-tiba, kecerdasan buatan yang ditanamkan di kamera, kondisi cahaya di lapangan, semua menyumbangkan faktor bagi kesuksesan pemotretan subyek bergerak. Anda perlu mengambil beberapa foto sekaligus untuk memperbesar kesempatan anda mendapatkan foto yang baik.
Sekali lagi, tidak ada teori yang bisa menggantikan pengalaman berharga di lapangan. Terus giat berlatih untuk membuat tingkat keberhasilan menjadi lebih tinggi.

SHUTTER SPEED

Lorong Inul Vizta, Sarinah
Binatang apa itu shutter speed? Apa pengaruh pemilihan shutter speed yang berbeda pada hasil foto? Bagaimana cara memperkirakan kecepatan shutter speed yang optimal? Bagaimana cara kreatif dalam memanfaatkan shutter speed? Mari kita pelajari bersama.
Unit shutter, bentuknya seperti jendela (gambar dari dpreview.com)
Apakah shutter dan shutter speed itu?
Shutter adalah bagian dari kamera mirip seperti jendela yang selalu dalam kondisi tertutup. Bila tombol shutter (tombol besar pengambil gambar di bagian atas kamera) ditekan maka shutter akan membuka sehingga cahaya yang datang dari luar akan masuk (melalui lensa) dan jatuh ke sensor pengambil gambar. Kemudian setelah jeda waktu tertentu shutter pun menutup lagi, memutus aliran cahaya yang masuk. Gambar pun tercipta di atas sensor (atau film pada kamera film). Nah lama waktu jendela shutter ini terbuka itulah yang kita sebut shutter speed. Shutter speed dihitung dalam satuan detik, misal 1/10 detik, 1/100 detik, 1/1000 detik dan seterusnya.
Mode Tv pada DLSR Canon
Menyetel kamera anda
Untuk bisa sesuka hati menentukan kecepatan shutter speed maka kamera harus disetel ke mode tertentu. Bila kamera anda memiliki pengatur mode P, A , S dan M maka anda bisa memilih mode S (shutter speed priority) atau bila anda menggunakan kamera merk Canon silakan pilih mode Tv (time value priority). Dengan memilih mode ini maka anda yang menentukan kecepatan shutter speed sementara setelan aperture dikendalikan oleh kamera secara otomatis. Anda mengubah nilai shutter speed dengan memutar atau menekan tombol pengendali utama kamera anda.
Atau anda bisa juga memilih mode P (program mode) lalu putar atau tekan tombol pengendali utama untuk mengubah nilai shutter speed (juga aperture secara bersamaan) ke angka yang anda inginkan.
Kreatif, membekukan atau mengaburkan subyek
Membekukan gerak subyek
Prinsip umumnya, semakin cepat gerak subyek maka kita butuh shutter speed yang semakin cepat untuk “membekukan” subyek.
Misal, untuk memotret manusia yang sedang bergerak normal (duduk sambil berbicara misalnya) kecepatan 1/60 detik sudah cukup untuk membekukan gerak tangan dan bibirnya. Lain lagi bila hendak membekukan gerak manusia sedang berlari, mungkin kita butuh 1/200 detik atau lebih cepat. Demikian seterusnya.
Atau anda bisa juga dengan sengaja mengaburkan bentuk subyek dengan memperlambat shutter speed. Memadukan shutter speed yang lambat dengan gerakan kamera atau gerakan subyek akan membuat subyek tampil kabur di hasil foto (seperti foto besar paling atas).
Tidak ada panduan pasti dalam menentukan shutter speed, pengalaman akan membantu anda menentukan shutter speed.
Mengubah shutter speed pada mode manual
Anda mungkin tertarik untuk menggunakan mode M (full manual eksposur) untuk memegang kendali secara penuh atas kamera anda. Silakan dicoba, ini adalah kesempatan anda untuk mengerti bagaimana sebuah kamera bekerja dalam menangkap cahaya.
Bila anda mengubah nilai shutter speed menjadi lebih cepat tanpa mengimbanginya dengan membuka aperture lebih besar atau menaikkan ISO menjadi lebih tinggi maka anda akan mendapatkan foto yang lebih gelap daripada sebelumnya. Semakin cepat shutter speednya maka semakin gelap pula foto anda.
Sebaliknya, bila anda memperlambat shutter speed tanpa menutup aperture menjadi lebih kecil atau menurunkan ISO menjadi lebih rendah maka foto anda akan semakin terang dari sebelumnya.
Kenapa? Ini karena cara kerja kamera yang mengumpulkan cahaya. Bila anda mengurangi waktu shutter speednya maka anda harus menambah besar lubang aperturenya untuk mempertahankan eksposur yang sama. Atau bila bila anda tidak mau memperbesar lubang aperturenya maka anda harus menaikkan ISO-nya. Ini adalah hukum kesetimbangan. Sama seperti sebuah perkalian A x B = C, bila anda hendak memperkecil nilai A sambil mempertahankan nilai C maka anda harus menaikkan nilai B. Betul kan?
Nah, selamat mencoba.

Teknik Memotret Malam

Teknik Memotret Malam Hari Dengan Flash

Oleh redani, 14 August 2010
Foto liburan anda?
Lihatlah foto di sebelah, terlihat familiar bukan? Apakah foto liburan terakhir anda tampak seperti ini? Ya inilah tipikal hasil foto yang umum kita dapatkan pada malam hari pada setelan automatik dengan menggunakan flash: subyek yang terang benderang dengan latar belakang yang gelap. Mari kita pelajari teknik yang lebih baik agar foto seperti ini tidak terjadi lagi.
Untuk mendapatkan foto sebaik siang hari dengan kondisi cahaya yang terbatas nyaris tidak mungkin. Anda harus memprioritaskan beberapa hal dan mungkin kehilangan beberapa hal lainnya. Anda harus melakukan banyak kompromi. Yang kita usahakan adalah memaksimalkan hasil pemotretan dalam situasi yang kurang menguntungkan ini.
Siap? Yuk kita mulai.
Ide Dasar
Saya bisa mengerti jika saat ini anda sudah bersama kamera kesayangan anda dan ingin segera praktek. Tapi sebelumnya anda harus pahami hal-hal berikut ini dahulu. Dalam fotografi dengan flash anda bertanggung jawab atas dua wilayah eksposur. Sudah anda ingat? Dua wilayah eksposur. Bawa kopi dan kacang ke depan komputer anda karena ini akan menjadi pembahasan yang panjang. Kita bahas satu persatu:
Visualisasi dua wilayah eksposur. Orang ke 1 dan 2 mendapat eksposur yang pas, orang ketiga agak gelap, orang keempat gelap
Eksposur pertama adalah eksposur latar depan, yaitu wilayah yang terjangkau oleh sinar flash anda. Jarak efektifnya kira-kira hingga 2 sampai 3 meter tergantung flash pada kamera anda. Terang gelapnya wilayah ini bergantung pada kekuatan flash anda. Anda sebaiknya membuka diafragma cukup besar agar flash anda tidak bekerja terlalu keras. Anda boleh saja ingin diafragma yang cukup kecil agar mendapatkan ruang tajam yang lebih lebar tapi harap diingat bahwa itu artinya anda mengurangi jarak jangkauan efektif flash. Setiap flash punya batas kekuatan maksimal dan tidak bisa lebih terang lagi. Jika anda mendapati latar depan foto anda tidak bisa lebih terang dari sebelumnya kemungkinan flash anda sudah ‘mentok’, anda sebaiknya mengalah dan membuka diafragma menjadi lebih besar. Jika diafragma pun sudah mentok tidak bisa lebih besar lagi maka anda mau tidak mau harus menaikkan ISO. Ini adalah sebuah kompromi, anda kehilangan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lainnya.
Eksposur kedua adalah eksposur latar belakang, yaitu wilayah yang tidak lagi terjangkau oleh sinar flash anda. Wilayah ini mungkin diterangi oleh cahaya lampu-lampu ruangan, cahaya lilin atau bahkan cahaya bulan yang masing-masing berbeda intensitasnya. Bila latar belakang tidak diterangi sumber cahaya apapun maka anda bisa langsung memotret. Jika latar belakang memiliki sumber cahaya maka kita bisa mengatur terang gelapnya. Besarnya intensitas cahaya yang menerangi latar belakang akan mempengaruhi hasil akhir foto kita. Terang gelapnya wilayah ini bisa dikendalikan dengan memperlambat shutter speed kamera kita. Semakin lambat shutter speed maka semakin terang latar belakangnya (ini yang kita mau) tetapi juga artinya semakin rentan terhadap gerakan baik gerakan subyek maupun guncangan tangan kita sendiri. Sekecil apapun guncangan bisa menyebabkan foto menjadi blur (ini yang tidak kita kehendaki). Yup, anda harus berkompromi dalam hal ini. Anda tidak bisa menang di keduanya. Yang anda harus cari adalah latar belakang yang cukup terang dan foto yang tidak blur. Mungkin anda perlu memperbaiki posisi kaki dan cara memegang kamera agar anda lebih kaku, tahan nafas jika perlu.
Sekarang kita melangkah ke praktek. Sengaja saya pisahkan antara kamera poket (kamera saku) dengan DSLR dengan flash built-in dan DSLR dengan flash eksternal. Semuanya menggunakan teknik yang serupa hanya berbeda di beberapa tahap. Saya haruskan anda membaca semuanya.
Mode night scene
Kamera Poket
Berhubung flash kamera poket hanya bisa menghadap ke depan maka kita terpaksa melakukan direct flash, yaitu menyinari obyek secara langsung dengan sinar flash.
Bila kamera saku anda ada memiliki mode “night scene”  maka anda dapat langsung mengaktifkannya untuk memotret malam hari. Dan bila kamera anda ternyata juga memiliki mode M (manual) anda bisa lebih leluasa menciptakan efek yang sama, bahkan lebih baik. Caranya:
  1. aktifkan mode M (manual) pada kamera
  2. nyalakan flash, biarkan di mode automatik
  3. buka diafragma (aperture) hingga maksimum (pilih angka terkecil) agar lebih banyak cahaya yang masuk ke lensa
  4. setel ISO ke 200
  5. set white balance ke flash atau sunlight
  6. lambatkan shutter speed hingga 1/30 sambil perhatikan layar LCD, bila terlalu terang maka percepat shutter speed (misal ke 1/40 atau lebih cepat) hingga terlihat cukup terang, bila terlalu gelap maka pelankan shutter speed (misal ke 1/25 atau lebih pelan lagi), bila sudah terlalu pelan (misal 1/15) maka sebaiknya anda kembalikan shutter speed ke 1/30 dan naikkan setelan ISO satu tingkat, ulangi langkah ini sampai mendapatkan cahaya yang seimbang dan shutter speed yang cukup cepat
  7. ambillah foto, jika mungkin minta kepada subyek foto anda untuk tidak bergerak hingga kira-kira satu detik hingga pengambilan foto selesai (flash biasanya nyala beberapa kalisetiap pengambilan foto, pastikan subyek foto tidak buru-buru bergerak setelah flash pertama menyala)
Walaupun masih melakukan direct flash yang cenderung keras, cara di atas memiliki kelebihan dibandingkan mode night scene yang disediakan kamera. Kelebihannya adalah anda memiliki kendali atas gelap terangnya latar belakang dari foto anda dengan cara memperlambat/mempercepat shutter speed. Mode night scene yang tersedia di kamera menggunakan trik yang sama tetapi sudah mematok eksposur latar belakang di tingkat tertentu dan tidak dapat diubah.
Teknik memperlambat shutter speed ini dikenal dengan istilah slow-shutter atau bukaan lambat. Bila disertai dengan flash  sering disebut dragging the flash atau “menyeret flash”. Tetapi apapun istilahnya anda sekarang sudah paham cara kerjanya. Semakin lambat shutter speed maka semakin terang latar belakang foto anda.
Foto diambil dengan teknik direct flash dan slow shutter. Latar belakang tertangkap dengan baik.
Kamera DSLR dengan Flash Built-In
Memotret malam hari dengan kamera DSLR dengan flash built-in juga menggunakan teknik slow shutter, yaitu cara yang sama dengan kamera poket kecuali di langkah nomor (6). Sebagai pengganti langkah ke (6) yaitu melihat ke layar LCD, adalah anda harus melakukan penyesuaian eksposur dengan melihat ke metering kamera (aktifkan metering mode matriks). Pastikan flash berada  di mode full automatik (TTL).
Setel shutter speed ke 1/30 dan perhatikan jarum metering anda, pastikan menunjuk angka lebih kecil dari nol dan di sekitar angka minus satu hingga minus dua. Bila ternyata jarum menunjukkan angka yang lebih kecil dari itu maka pelankan shutter speed. Bila shutter speed sudah kelewat lambat (misal 1/15 detik) maka kembalikan shutter speed ke 1/30 dan naikkan ISO. Ulangi langkah ini hingga jarum metering berada di antara minus satu dan minus dua. Ambil sampel foto sebagai contoh. Ulangi langkah di atas (jika perlu) hingga anda mendapatkan perimbangan latar depan dan latar belakang yang sesuai dengan selera. Saya pribadi menyukai eksposur latar belakang pada posisi minus satu selama kondisi memungkinkan.
Portrait dengan teknik bounce flash
Kamera DSLR dengan Flash Eksternal
Dengan flash eksternal maka anda memiliki kesempatan terbaik. Teknik yang digunakan sama dengan teknik memotret pada kamera DSLR dengan flash built-in, bedanya anda mengubah arah moncong flash eksternal anda ke langit-langit di atas kepala anda. Teknik ini dikenal dengan nama teknik bouncing flash (flash yang dipantulkan). Dengan memantulkan cahaya flash ke langit-langit akan mengubah sifat cahaya flash yang tadinya berpenampang kecil menjadi berpenampang besar. Dan penampang sumber cahaya yang besar menghasilkan cahaya yang lebih lembut merata, itu kuncinya. Hanya saja pastikan bahwa langit-langit anda berwarna putih agar cahaya pantulannya tetap netral.
Jika ruangan tempat anda memotret ternyata memiliki langit-langit yang warnanya tidak netral (merah, coklat dll), langit-langitnya kelewat tinggi atau anda berada di luar ruangan maka anda tidak dapat melakukan teknik bouncing flash. Yang terbaik untuk anda lakukan adalah mengembalikan moncong flash ke arah depan dan kembali ke teknik direct flash dengan slow shutter.
Perbedaan warna latar depan dan belakang. Warna oranye di latar belakang menunjukkan ruangan menggunakan penerang berupa lampu pijar
Mengoreksi Warna
Menggunakan teknik di atas kemungkinan masih menyisakan satu masalah yaitu belangnya warna di latar depan dibandingkan dengan latar belakang. Hal ini disebabkan perbedaan suhu warna antara flash dan lampu ruangan. Bila lampu ruangan adalah dari jenis lampu pijar maka latar belakang foto akan berwarna kekuningan sementara bila lampu ruangan dari jenis lampu neon maka latar belakang foto akan berwarna kehijauan.
Yang perlu kita lakukan adalah menyamakan warna cahaya latar depan dengan warna cahaya latar belakang dan biarkan white balance yang melakukan koreksi untuk menormalkan keduanya sekaligus untuk kita. Terdengar hebat kan?
Gel dan cara pemasangannya
Untuk itu kita butuh bantuan benda yang namanya gel. Bukan, bukan gel yang dimakan anak-anak atau yang dipakai di rambut. Gel yang dimaksud adalah semacam plastik bening berwarna yang bisa anda beli di toko peralatan fotografi. Ada banyak warna tersedia tetapi yang kita butuhkan hanya yang berwarna oranye dan berwarna hijau. Gel oranye kita gunakan pada ruangan dengan pencahayaan lampu pijar dan gel hijau untuk ruangan dengan lampu neon.
Latar depan dan belakang sudah terkoreksi dengan pemasangan gel dan penyetelan white balance yang tepat
Prakteknya sangat mudah. Pasang gel yang sesuai dengan jenis lampu yang ada dalam ruangan pada moncong flash anda. Anda dapat mengetahui jenis lampu tersebut dengan mudah, dengan melihat foto yang diambil dengan teknik slow shutter. Jika latar belakang menunjukkan warna oranye berarti ruangan menggunakan lampu pijar dan anda tinggal memasang gel warna oranye, sedangkan bila kehijauan maka ruangan menggunakan lampu neon dan anda silakan pasang gel hijau. Selanjutnya anda harus mengubah white balance ke jenis lampu yang sesuai dan selesailah proses pemasangan, anda hanya tinggal memotret.
Memotret malam hari dengan flash selalu menantang. Setiap tempat, setiap lokasi, setiap ruangan punya karakteristik masing-masing yang menuntut kita untuk segera beradaptasi. Sering-seringlah berlatih agar terbentuk refleks.
Selamat memotret.

Kamis, 10 Maret 2011

PARAMORE THE ONLY EXEPTION

When I was younger
I saw my daddy cry
And curse at the wind
He broke his own heart
And I watched
As he tried to reassemble it

And my momma swore that
She would never let herself forget
And that was the day that I promised
I'd never sing of love
If it does not exist

But darling,
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception

Maybe I know, somewhere
Deep in my soul
That love never lasts
And we've got to find other ways
To make it alone
Keep a straight face

And I've always lived like this
Keeping a comfortable, distance
And up until now
Paramore The Only Exception lyrics found on http://www.directlyrics.com/paramore-the-only-exception-lyrics.html

I had sworn to myself that I'm
Content with loneliness

Because none of it was ever worth the risk

Well, You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception

I've got a tight grip on reality
But I can't
Let go of what's in front of me here
I know you're leaving
In the morning, when you wake up
Leave me with some kind of proof it's not a dream

Ohh---

You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception
You, are, the only exception

And I'm on my way to believing
Oh, And I'm on my way to believing

Rabu, 09 Maret 2011

Kegagalan Adalah Sukses yang Tertunda

KEGAGALAN adalah keberhasilan yang tertunda, begitu nasihat yang sering kali diucapkan seseorang kepada rekannya yang mengalami kegagalan. Maksud penyampaian nasihat ini tentu untuk memberikan semangat bahwa kegagalan bukanlah kiamat atau akhir dari segalanya.
Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan. Baik itu kegagalan di dalam perdagangan, kegagalan dalam pernikahan, kegagalan dalam kuliah, kegagalan dalam pekerjaan dan lain sebagainnya. Bahkan orang-orang besar yang terlihat bergelimang kesuksesan sekalipun pasti pernah mengalami kegagalan di dalam hidup mereka.
Penyebab kegagalan
Jika kita menelusuri penyabab kegagalan, maka kita dapat menggolongakan penyabab tersebut dalam dua golongan besar, yakni kegagalan karena faktor internal dan kegagalan karena faktor external.
Kegagalan karena faktor internal adalah kegagalan yang berasal dari dalam diri kita sendiri. Banyak hal yang dapat menjadi penyebab kegagalan ini,seperti kurang perhitungan pada saat awal melangkah, kurang hati-hati dalam melakukan sesuatu, atau karena menganggap remeh suatu pekerjaan tertentu. Tetapi penyebab internal yang paling sering terjadi adalah rasa takut untuk mencoba atau memulai sesuatu kesempatan. Dengan menghindari peluang atau kesempatan bukan berarti kta telah lepas dari kemungkinan kegagalan yang mungkin kita hadapi, akan tetapi kita justru telah menetapkan kegagalan tersebut sebagai pilihan kita.
Selain berjiwa besar, seseorang juga memiliki kemampuan untuk menghadapi permasalahan atau menghadapi parmasalahan atau kegagalan yang ia alami. Kemampuan ini lebih dikenal sebagai Adversity Quotient(AQ). Memang AQ ini lebih banyak berkembang di masa kecil seseorang, dimasa orang tua sangat berperan dalam hal memupuk dan mengembangkan kemampuan AQ anak. Tetapi bukan berarti seseorang yang memiliki kemampuan AQ yang kurang baik tidak akan menghadapi kegagalan yang ia alami. Ada beberapa hal yang dapat membantu seseorang yang untuk tegar dalam menghadapi kegagalan yang ia alami sekaligus meningkatkan kemampuan AQ yang ia miliki.
Berikut ini adalah beberapa langkah sederhana yang dapat kita lakukan pada saat kita menghadapi kegagalan:
1.Pasrah kepada Tuhan
2.Ambil hikmah
3.Istirahat
4.Bertanya dan evaluasi
5.Memulai kegiatan baru
Dan janganlah lupa untuk menggunakan peta kekuatan baru yang kita miliki.
Ada dua kesempatan yang dapat kita lakukan. Pertama adalah tujuan baru dengan cara lama atau tujuan lamdea ngan cara baru. Kedua, tujuan baru dengan cara yang baru.